Apa saya harus mengalah? Sudah menjadi hal yang lumrah kita diharuskan untuk mengalah. Dimana yang benar harus mengalah demi kalimat toleransi. Sejak kapan trend ini terjadi.
Ada kalanya saya berpikir, apakah diam adalah bagian dari akhlak? Atau justru bentuk dari ketakutan yang dibungkus dengan kata “toleransi”?Sebagai seorang santri, sejak kecil saya diajari untuk menghormati, menunduk pada adab, dan menjaga lisan. Tapi dunia luar pondok tidak selalu seideal kitab-kitab akhlak yang saya pelajari. Ketika saya mulai menulis blog dan membagikan opini—terutama soal kebenaran yang tidak enak didengar—responsnya sering bikin goyah.Ada yang bilang saya terlalu keras. Ada yang menyindir, “Masih santri kok nggak bisa toleran?”Padahal saya cuma menyampaikan yang benar.
Batas Toleransi
Dalam Islam, kita diajarkan tasamuh (toleransi). Tapi juga diajarkan amar ma’ruf nahi munkar. Saya mulai sadar: toleransi bukan berarti menyetujui semua hal. Apalagi jika hal itu melukai keadilan, atau menabrak prinsip.Pernah di komunitas digital, saya melihat ketidakjujuran terjadi terang-terangan. Konten plagiat, manipulasi data, atau bahkan meremehkan pembaca demi klik. Saya protes lewat tulisan. Hasilnya? Dibilang cari panggung.Tapi saya percaya, diam bukan pilihan jika yang benar diinjak-injak.
Damai?
Sebagai blogger, saya banyak belajar bahwa tidak semua damai itu sehat. Damai yang dibangun di atas ketakutan, kompromi prinsip, dan pembungkaman suara hati… hanya damai semu.Saya lebih takut jika nanti saya ditanya, “Kenapa kamu diam waktu tahu ada yang salah?” daripada dibilang terlalu vokal di dunia maya.
Kadang, jadi benar itu menyakitkan. Tidak populer. Tidak disukai. Tapi ingat—dalam setiap zaman, orang-orang yang memelihara prinsip selalu diuji kesendiriannya.Dan dalam sunyi itu, saya kembali mengingat sabda Nabi SAW, “Katakanlah yang benar walau pahit.”Pahit. Tapi menyembuhkan.Sebagai santri sekaligus blogger, saya tahu jalan ini tidak mudah. Tapi jika saya bisa menulis satu kalimat jujur yang menggugah satu orang untuk ikut membela yang benar, maka pena ini tidak sia-sia.
Tinggalkan komentar